Friday, December 18, 2009

Buat Anak-anak, Hhidup di Jalan Lebih Baik Daripada NONTON TV di Rumah

Ga pake intermezzo lah sekarang mah, langsung aja ke pokok permasalahannya, lagi males nulis nih sebenernya,haha.. Sebenernya, kalo dibaca sekilas judul dari tulisan ini mungkin orang akan berpikir bahwa tulisan ini adalah sebuah kesalahan besar, tapi biar lebih memaknai judulnya meningan baca dulu deh isi tulisan ini.

Mari kita bandingkan efek dari kedua kasus ini. Yang pertama, jika anak-anak dibiarkan untuk mengamati kehidupan di jalanan yang notabene adalah sebuah gambaran dari kerasnya hidup. Apa saja yang anak dapatkan dari kehidupan di jalan? Lalu lintas yang kacau, kesibukan manusia mencari sesuap nasi, polisi yang bekerja dan beberapa perilaku serta kata-kata kasar. Lalu apa saja yang anak dapatkan ketika menonton tv di rumah? Film yang disukainya, lagu yang disukainya, berita politik, berita kriminal, kasus selebriti, sinetron yang mempertontonkan kehidupan yang glamour dan disertai konflik kotor.

Setelah dijabarkan tanpa penjelasan masih terlihat jika kehidupan di jalan tidaklah lebih baik dari menonton acara tv di rumah. Namun sedikit mengulas dari setiap hal yang anak-anak dapatkan dari kedua kasus tersebut. Ketika anak-anak dibiarkan untuk hidup di jalan, ia akan mendapatkan sebuah realita kehidupan di mana terdapat kekerasan (baik itu dari segi fisik maupun bahasa) dan juga perjuangan untuk mempertahankan hidup. Memang benar jika orang berpikiran bahwa di jalan terdapat banyak pengaruh buruk bagi perkembangan seorang anak, terlihat dari banyaknya unsur kekerasan yang terjadi di jalanan. Tetapi apakah hal itu terjadi terus menerus, setiap saat? Apakah hanya hal itu saja yang terdapat di jalanan? Tentu saja tidak, kehidupan keras yang dipertontonkan di jalanan tidaklah terjadi setiap saat, selain itu juga ada beberapa hal baik yang dapat dijadikan sebuah pembelajaran dari kehidupan jalanan. Namun saya tidak akan membahas hal itu dalam tulisan ini. Karena dalam tulisan ini hal yang ingin saya kedepankan adalah pengaruh buruk dari televisi bagi anak-anak.

Kembali ke efek tv bagi anak-anak, tentu saja jika kita melihat berbagai acara yang disuguhkan oleh pihak pengelola televisi akan tampak seolah-olah program yang mereka sajikan itu baik bagi perkembangan anak-anak. Tetapi apakah sudah tepat program yang mereka buat untuk anak-anak? Saya pikir belum! Hal yang paling membuat saya heran adalah masalah pengaturan waktu penayangan dari setiap acara tv tersebut. Film kartun dan juga acara lain yang sebenarnya baik untuk anak-anak ditayangkan pada jam dimana anak-anak sedang dalam waktu sekolahnya dan bahkan pada waktu tidurnya(baik itu tidur siang maupun malam). Sebagai contoh, ada beberapa stasiun tv swasta yang menayangkan film kartun pada jam 11 malam dan 2 dini hari, lalu acara yang menayangkan pengetahuan untuk anak-anak banyak yang ditayangkan pada jam 2 dan 3 sore, dimana anak-anak sedang ada pada waktu tidur siangnya. Namun demikian, tidak semua stasiun televisi menerapkan kebijakan seperti itu, ada sedikit yang telah menerapkan program untuk anak-anak secara efektif. Tetapi hal itu belumlah cukup untuk mendukung perkembangan anak-anak. Jadi, apakah sudah efektif program tersebut bagi perkembangan anak-anak? Terlebih ada banyak acara yang memiliki efek negatif bagi perkembangan anak-anak. Di antaranya adalah berita kriminal yang selalu menampilkan kekerasan, gossip selebriti yang menampilkan kehidupan glamour selebriti dan juga sinetron yang mengkombinasikan antara kehidupan glamour dan kekerasan. Ironisnya, acara-acara tersebut sering ditayangkan pada waktu dimana anak-anak sedang menonton tv. Melalui berita kriminal anak-anak mendapatkan gambaran bahwa dalam kehidupan di luar sana, kekerasan sangat mendominasi dan hal tersebut seolah-olah merupakan sesuatu yang biasa karena seringnya peristiwa tersebut ditampilkan di televisi. Lalu selain itu, kehidupan glamour dari para selebriti yang sering diekspose oleh media, sehingga memberikan sebuah gambaran bagi anak-anak bahwa kehidupan dinilai dari materi, hal ini dapat mendorong anak-anak untuk menjadi seorang kapitalis! Dan yang lebih parah lagi adalah ketika anak-anak ‘dipaksa’ untuk menonton sinetron yang tak pernah ada habisnya ditayangkan. Tema cerita percintaan yang biasanya diangkat pada sebuah sinetron selalu dipenuhi dengan unsur kekerasan dan mengabaikan etika kesopanan dari sesama figurnya. Saya sempat melihat adegan dalam sebuah sinetron dimana seorang anak kecil membentak orang tuanya dan berbuat keji kepada temannya. Sebuah pemandangan yang mengerikan jika sinetron tersebut ternyata dilihat oleh anak-anak yang notabene mudah menyerap apa saja yang dilihatnya. Dan juga perebutan harta serta kekuasaan yang sering ditonjolkan dalam konflik sebuah sinetron. Bukankah semua hal itu memiliki dampak negatif yang amat besar bagi anak-anak?

Sudah terlihat bukan, bagaimana efek negatif yang diberikan oleh tontonan di televisi dan juga di jalanan. Dari hal ini dapat terlihat bahwa efek negatif yang diberikan oleh tontonan acara televisi lebih mengerikan dibandingkan dengan kehidupan jalanan. Anak-anak dapat terpengaruh ke dalam sebuah perilaku yang buruk dalam menyikapi hidup. Perilaku kekerasan dan juga mengabaikan etika kesopanan serta pola pikir yang kapitalis dapat dengan mudah diserap oleh anak-anak ketika mereka dibiarkan untuk menonton acara televisi. Meskipun kehidupan di jalanan dipenuhi dengan unsur-unsur negatif, namun dari penjabaran di atas dapat terlihat bahwa tontonan di televisi memiliki pengaruh yang lebih buruk dari kehidupan di jalanan bagi anak-anak.

Maksud yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya ini adalah agar para orangtua lebih bijak memberikan asupan pengetahuan bagi anak-anaknya terutama melalui media televisi. Dan satu hal yang sangat saya harapkan dari tulisan ini adalah generasi pembangun bangsa yang sekarang masih dalam masa kanak-kanak tidak terjerumus ke dalam kehidupan yang memaksa mereka untuk berpikir seperti seorang bajingan yang tidak lagi memikirkan sesamanya. Selain itu, saya juga berharap tulisan saya ini tidak mendapatkan pencekalan dari pihak media televisi, seperti yang terjadi pada orang lain sebelum saya yang memberikan pandangannya terhadap sebuah instansi. Amiin!

(mudah2an ga akan, soalnya saya kan bukan orang terkenal..hehe..)


only shortlisted man can understand this article

0 comments: