Thursday, December 31, 2009

Raguku

Aku terdiam menatap deretan tanggal yang tersusun rapi di barisan kalendar kecil tepat di depan mataku. Tidak ada lanjutan hari setelah tanggal untuk hari ini, aku tersadar jika hari ini adalah akhir dari semua hari di 365 hari tahun 2009. Ya, malam ini akan ada awal pergantian tahun, malam tahun baru. Ketika orang lain sibuk menyiapkan pesta untuk menyambut kedatangan sang 2010 dan juga memikirkan resolusi apa saja yang akan dilakukan di tahun berikutnya, aku tak lebih dari terbaring di atas tempat tidur lusuhku, tak sedikit pun pikiranku tertuju untuk hal-hal semacam itu, entah karena aku yang tak peduli akan keadaan yang terjadi ataupun aku yang memang tak ingin menyibukkan diri dengan semua hal tentang pergantian tahun. Lebih dari 24 kali aku melewati momen pergantian tahun dan aku selalu menganggap hal itu tidak istimewa, aku pikir itu hanya ritual manusia untuk mengganti kalendar masehinya dan tidak lebih.
Aku pun beranjak dari tempat tidurku, aku menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku agar tampak sedikit lebih rapi dibandingkan lipatan kasur lusuhku. Sejenak terlintas dalam pikiranku, aku juga harus mempersiapkan segala hal tentang pergantian tahun, tapi aagh! kubuang jauh-jauh pikiran itu. Di ruang keluarga rumahku, ibu dan adik-adikku juga sibuk dengan pesta yang akan mereka siapkan untuk nanti malam. Semua sama pikirku, aku mulai muak melihat keadaan orang-orang yang terlalu sibuk dengan malam pergantian tahun. Seketika aku merasa rumah ini bukanlah tempat yang tepat untukku di hari ini, aku pun pergi ke luar rumah. Dengan pikiran yang masih melayang antara kesibukan orang-orang untuk malam yang mereka anggap istimewa dan aku yang sama sekali tidak peduli akan itu, aku mencoba untuk mencari ketenangan untuk pikiranku ini. Tapi lagi-lagi aku merasa muak, sepanjang jalan yang kulalui anak-anak kecil bahkan orang dewasa saling sahut membunyikan terompetnya untuk menyambut malam pergantian tahun. Pikiranku semakin bimbang, aku mulai merasa kalau malam pergantian tahun ini memang harus diistimewakan. Apa-apaan ini! Kupikir sebaiknya aku mengahabiskan hari ini di kamar tidurku.
Di dalam kamarku, kumatikan semua barang elektronikku, agar tidak ada satupun hal tentang pergantian tahun yang bisa kudengar ataupun kulihat. Entah apa yang ada di benakku saat ini, padahal di tahun-tahun sebelumnya tak pernah aku menggubris setiap aktivitas tentang malam pergantian tahun. Semua pikiran itu mengarahkanku untuk mencoba memahami arti pergantian tahun, kumulai dengan pesta penyambutan luar biasa di setiap penjuru dunia. Apakah itu penting? Apa gunanya? Pikiran itu berkecamuk di otakku, ku bertanya pada diriku sendiri, ku melihat realita yang ada dan mencoba mempertimbangkannya. Aahh, tak ada yang berguna pikirku. Lalu mengapa mereka semua seolah dibutakan oleh kegiatan itu semua? Hedonisme pikirku. Akupun mulai tenang, tanpa pikiran tentang pergantian tahun yang memuakkanku. Tapi tunggu, bagaimana dengan resolusi untuk tahun berikutnya? Bukankah hal ini juga sering diperbincangkan orang? Iya, aku sempat melupakan hal ini, ini akan terus menghantuiku jika tak juga aku pahami. Ku mulai menggodoknya di dalam pikiranku sendiri, apa guna dari resolusi itu, dan hal-hal lain mengenai resolusi itu. Aku semakin bingung dengan apa yang kupikirkan, semua hal tentang resolusi sepertinya membuat keyakinanku akan pergantian tahun yang tidak kuanggap penting buyar. Resolusi yang berisi tentang harapan, tekad dan semangat untuk memperbaiki hidup di tahun berikutnya nampak begitu meyakinkan, dan membuatku berpikir jika ini memang harus diistimewakan.
Aku yang selalu berusaha untuk tetap pada pendirianku dengan tidak menganggap penting malam pergantian tahun pun akhirnya luluh. Resolusi hidup untuk tahun selanjutnya telah menggoyahkan pendirianku. Impian untuk tahun berikutnya memang suatu hal yang perlu dipersiapkan. Karena dalam hidup, impian lah yang membawa kita menuju apa yang kita harapkan. Mungkin ini hanyalah momen pergantian tahun, hal yang terlihat biasa bagiku, tetapi kupikir tidak juga ada salahnya jika menjadikan malam ini sebagai langkah awal untuk mengarungi perjuangan hidup selama 365 hari berikutnya. Dimulai dengan mengingat kembali apa saja yang telah kulakukan selama satu tahun kemarin, lalu aku memilah apa saja yang menjadi kesalahanku dan apa saja yang telah aku lakukan dengan baik. Kubuat resolusiku untuk tahun berikutnya, ini adalah kali pertama aku melakukannya selama lebih dari 24 kali malam pergantian tahun yang telah aku lalui. Aku merasa puas setelah menyudahi kebiasaan bodohku yang tak pernah punya harapan dan impian untuk kehidupanku di hari-hari berikutnya. Kupahat indah semua resolusi itu dalam dinding otak dan hatiku, agar menjadi acuan dalam menggapai impianku. Inilah aku yang siap menggapai impianku, 365 hari ke depan akan kulahap dengan semangatku menggapai impian!




Ide awalnya padahal ga gini nih, tapi kenapa jadi gini yah? Ahh, mungkin kodrat penulis labil nih, hehehe.. Buat yang baca tulisan ini tolong kasih komen y! Sekalian juga do’ain biar di tulisan selanjutnya bisa lebih baik lagi. Amiin..


only shortlisted man can understand this article

Friday, December 18, 2009

Buat Anak-anak, Hhidup di Jalan Lebih Baik Daripada NONTON TV di Rumah

Ga pake intermezzo lah sekarang mah, langsung aja ke pokok permasalahannya, lagi males nulis nih sebenernya,haha.. Sebenernya, kalo dibaca sekilas judul dari tulisan ini mungkin orang akan berpikir bahwa tulisan ini adalah sebuah kesalahan besar, tapi biar lebih memaknai judulnya meningan baca dulu deh isi tulisan ini.

Mari kita bandingkan efek dari kedua kasus ini. Yang pertama, jika anak-anak dibiarkan untuk mengamati kehidupan di jalanan yang notabene adalah sebuah gambaran dari kerasnya hidup. Apa saja yang anak dapatkan dari kehidupan di jalan? Lalu lintas yang kacau, kesibukan manusia mencari sesuap nasi, polisi yang bekerja dan beberapa perilaku serta kata-kata kasar. Lalu apa saja yang anak dapatkan ketika menonton tv di rumah? Film yang disukainya, lagu yang disukainya, berita politik, berita kriminal, kasus selebriti, sinetron yang mempertontonkan kehidupan yang glamour dan disertai konflik kotor.

Setelah dijabarkan tanpa penjelasan masih terlihat jika kehidupan di jalan tidaklah lebih baik dari menonton acara tv di rumah. Namun sedikit mengulas dari setiap hal yang anak-anak dapatkan dari kedua kasus tersebut. Ketika anak-anak dibiarkan untuk hidup di jalan, ia akan mendapatkan sebuah realita kehidupan di mana terdapat kekerasan (baik itu dari segi fisik maupun bahasa) dan juga perjuangan untuk mempertahankan hidup. Memang benar jika orang berpikiran bahwa di jalan terdapat banyak pengaruh buruk bagi perkembangan seorang anak, terlihat dari banyaknya unsur kekerasan yang terjadi di jalanan. Tetapi apakah hal itu terjadi terus menerus, setiap saat? Apakah hanya hal itu saja yang terdapat di jalanan? Tentu saja tidak, kehidupan keras yang dipertontonkan di jalanan tidaklah terjadi setiap saat, selain itu juga ada beberapa hal baik yang dapat dijadikan sebuah pembelajaran dari kehidupan jalanan. Namun saya tidak akan membahas hal itu dalam tulisan ini. Karena dalam tulisan ini hal yang ingin saya kedepankan adalah pengaruh buruk dari televisi bagi anak-anak.

Kembali ke efek tv bagi anak-anak, tentu saja jika kita melihat berbagai acara yang disuguhkan oleh pihak pengelola televisi akan tampak seolah-olah program yang mereka sajikan itu baik bagi perkembangan anak-anak. Tetapi apakah sudah tepat program yang mereka buat untuk anak-anak? Saya pikir belum! Hal yang paling membuat saya heran adalah masalah pengaturan waktu penayangan dari setiap acara tv tersebut. Film kartun dan juga acara lain yang sebenarnya baik untuk anak-anak ditayangkan pada jam dimana anak-anak sedang dalam waktu sekolahnya dan bahkan pada waktu tidurnya(baik itu tidur siang maupun malam). Sebagai contoh, ada beberapa stasiun tv swasta yang menayangkan film kartun pada jam 11 malam dan 2 dini hari, lalu acara yang menayangkan pengetahuan untuk anak-anak banyak yang ditayangkan pada jam 2 dan 3 sore, dimana anak-anak sedang ada pada waktu tidur siangnya. Namun demikian, tidak semua stasiun televisi menerapkan kebijakan seperti itu, ada sedikit yang telah menerapkan program untuk anak-anak secara efektif. Tetapi hal itu belumlah cukup untuk mendukung perkembangan anak-anak. Jadi, apakah sudah efektif program tersebut bagi perkembangan anak-anak? Terlebih ada banyak acara yang memiliki efek negatif bagi perkembangan anak-anak. Di antaranya adalah berita kriminal yang selalu menampilkan kekerasan, gossip selebriti yang menampilkan kehidupan glamour selebriti dan juga sinetron yang mengkombinasikan antara kehidupan glamour dan kekerasan. Ironisnya, acara-acara tersebut sering ditayangkan pada waktu dimana anak-anak sedang menonton tv. Melalui berita kriminal anak-anak mendapatkan gambaran bahwa dalam kehidupan di luar sana, kekerasan sangat mendominasi dan hal tersebut seolah-olah merupakan sesuatu yang biasa karena seringnya peristiwa tersebut ditampilkan di televisi. Lalu selain itu, kehidupan glamour dari para selebriti yang sering diekspose oleh media, sehingga memberikan sebuah gambaran bagi anak-anak bahwa kehidupan dinilai dari materi, hal ini dapat mendorong anak-anak untuk menjadi seorang kapitalis! Dan yang lebih parah lagi adalah ketika anak-anak ‘dipaksa’ untuk menonton sinetron yang tak pernah ada habisnya ditayangkan. Tema cerita percintaan yang biasanya diangkat pada sebuah sinetron selalu dipenuhi dengan unsur kekerasan dan mengabaikan etika kesopanan dari sesama figurnya. Saya sempat melihat adegan dalam sebuah sinetron dimana seorang anak kecil membentak orang tuanya dan berbuat keji kepada temannya. Sebuah pemandangan yang mengerikan jika sinetron tersebut ternyata dilihat oleh anak-anak yang notabene mudah menyerap apa saja yang dilihatnya. Dan juga perebutan harta serta kekuasaan yang sering ditonjolkan dalam konflik sebuah sinetron. Bukankah semua hal itu memiliki dampak negatif yang amat besar bagi anak-anak?

Sudah terlihat bukan, bagaimana efek negatif yang diberikan oleh tontonan di televisi dan juga di jalanan. Dari hal ini dapat terlihat bahwa efek negatif yang diberikan oleh tontonan acara televisi lebih mengerikan dibandingkan dengan kehidupan jalanan. Anak-anak dapat terpengaruh ke dalam sebuah perilaku yang buruk dalam menyikapi hidup. Perilaku kekerasan dan juga mengabaikan etika kesopanan serta pola pikir yang kapitalis dapat dengan mudah diserap oleh anak-anak ketika mereka dibiarkan untuk menonton acara televisi. Meskipun kehidupan di jalanan dipenuhi dengan unsur-unsur negatif, namun dari penjabaran di atas dapat terlihat bahwa tontonan di televisi memiliki pengaruh yang lebih buruk dari kehidupan di jalanan bagi anak-anak.

Maksud yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya ini adalah agar para orangtua lebih bijak memberikan asupan pengetahuan bagi anak-anaknya terutama melalui media televisi. Dan satu hal yang sangat saya harapkan dari tulisan ini adalah generasi pembangun bangsa yang sekarang masih dalam masa kanak-kanak tidak terjerumus ke dalam kehidupan yang memaksa mereka untuk berpikir seperti seorang bajingan yang tidak lagi memikirkan sesamanya. Selain itu, saya juga berharap tulisan saya ini tidak mendapatkan pencekalan dari pihak media televisi, seperti yang terjadi pada orang lain sebelum saya yang memberikan pandangannya terhadap sebuah instansi. Amiin!

(mudah2an ga akan, soalnya saya kan bukan orang terkenal..hehe..)


only shortlisted man can understand this article